//
you're reading...
TENTANG ISLAM

Maafkan Aku, Ayah


ade subandiMaafkan Aku, Ayah,, Sewaktu usiaku belum lima tahun, aku hampir tak pernah mengenalnya.
Bukan karena usiaku yang belum bisa mengenal secara detail siapapun, tapi lebih karena pria ini hampir tidak pernah kujumpai. Kecuali sesekali di hari minggu, ia seharian penuh berada di rumah dan mengajakku bermain. Namun meski sekali, aku merasa sangat senang dengan keberadaanya.

Sejak aku mulai sekolah hingga masa remaja, aku menganggap pria ini tidak lebih dari sekedar pria tempat ibu meminta uang bulanan, juga untuk keperluan sekolahku dan adik adikku. Tidak seperti anak anak lainnya yang mempunyai seorang pria dewasa yang membela mereka saat berseteru dengan teman mainnya,atau setidaknya merangkul menenangkan ketika kalah berkelahi, aku tidak.

Pria dewasa yang sering kujumpai di rumah itu sibuk dengan semua pekerjaannya.
Hingga aku dewasa, pria ini masih kuanggap orang asing meski sesekali ia
mengajariku berbagai hal dan memberi nasihat. Sampai akhirnya, kutemukan pria ini lagi sehari, dua hari, seminggu, sebulan dan bahkan seterusnya berada dirumahku.
Rambutnya sudah memutih, berdirinya tak lagi tegak, ia tak segagah
dulu saat aku pertama mengenalnya, langkahnya pun mulai goyah dan lambat. Kerut kerut diwajahnya menggambarkan kerasnya perjuangan hidup yang telah dilaluinya. Bahkan suaranya pun terdengar parau menyelingi sakit yang sering dideritanya.

Kini pikiranku jauh melayang pada sayup sayup suara ibu, sambil menyusuiku ia memperkenalkan pria ini setiap hari, “nak, ini ayah ?” meski aku pun belum begitu mengerti saat itu. Bahkan menurut ibu, pria ini justru yang pertama kali menyambutku ketika pertama kalinya aku melihat dunia. Cerita ibu, karena pria ini yang mengantar, menemani ibu hingga saat persalinan. Bahkan suaranyalah yang pertama kudengar dengan lembut menerobos kedua telingaku dengan lantunan adzan dan iqomat hingga aku tetap mengenali suara panggilan Allah itu hingga kini.

Dari ibu juga aku mengetahui, bahwa ia rela kehilangan kesempatan untuk
mencurahkan kasih sayang dan cintanya kepadaku demi bekerja seharian penuh sejak dinginnya shubuh masih menusuk kesunyian hari saat aku masih tertidur hingga malam yang larut ketika akupun sudah terlelap. Ia tahu resiko yang harus diterimanya kelak, bahwa anak anaknya tak akan mengenalnya, tak akan lebih mencintainya seperti mereka mencintai ibu mereka, tak akan menghormatinya karena merasa asing dan tidak akan memprioritaskan perintahnya karena hampir tak pernah dekat. Tapi kini kutahu, ia lakukan semua demi aku, anaknya.

Ibu juga pernah bercerita, pria ini selelah apapun ia tetap tersenyum dan
tak pernah menolak saat aku mengajaknya bermain dan terus bermain. Ia tak pernah menghiraukan penat, peluh dan lelahnya sepulang kerja demi membuat aku tetap senang. Ia tak mengeluh harus bangun berkali kali dimalam hari bergantian dengan ibu untuk sekedar menggantikan popok pipisku atau membuatkanku sebotol susu. Dan itu berlangsung terus selama beberapa tahun, yang untuk semua itu ia ikhlas menggadaikan rasa kantuknya. Kusadari kini, semua dilakukannya untukku.
Untuk sebuah cinta yang tak pernah ia harapkan balasannya.
Seperti halnya ibu, ia juga rela ketika harus terus menggunakan kemeja
usangnya untuk bekerja, atau celananya yang beberapa kali ditambal. Kata ayah seperti diceritakan ibu, uangnya lebih baik untuk membelikan aku pakaian, susu dan makanan terbaik agar aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Terima kasih Ayah, kutahu engkau juga tak kalah cintanya kepadaku dengan kecupan hangatmu saat hendak berangkat kerja dan juga sepulangnya ketika aku terlelap. Meski tak banyak waktu yang kau berikan untuk kita bersama, namun sedetik keberadaanmu telah mengajarkan aku bagaimana menjadi anak yang tegar, tidak cengeng dan mandiri. Kerut diwajahmu, memberi aku contoh bagaimana menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan.

Maafkan aku Ayah, aku tak pernah membayangkan sedemikian besar cinta dan pengorbananmu kepadaku. Ayah tak pernah mengeluh meski cinta dan pengorbanan itu sering terbalaskan dengan bantahan dan sikap kurang hormatku. Meski kasih
sayang yang kau berikan hanya berbuah penilaian salahku tentangmu.

Jangan menangis Ayah, meski kini kau nampak tua dan lelah, bahu dan
punggungmu yang tak sekekar dulu lagi, bahkan nafasmu yang mulai tersengal. Ingin aku bisikkan kepadamu, “Aku mencintaimu ?”
Wallahu ‘a’lam bishshowaab

About ade subandi

saya faham akan ketidaksmepurnaan dalam tulisan yang saya buat melalui blog ini masih banyak sekali kekurangan. namun dengan blog yang sederhana ini paling tidak ada nilai manfaat meskipun kecil semoga ada hikmahnya buat para readers netters.

Diskusi

2 thoughts on “Maafkan Aku, Ayah

  1. selamat n sukses,,,,manbtap boz!

    Posted by petualang jalang | April 7, 2010, 11:09
  2. ayah, memang aku bukan orang yang engkau dambakan, tapi aku juga gak mau hidupku kau belenggu dengan rantai dosa yang begitu kuat untuk engkau lepaskan. maafkan aku ayah!

    Posted by adey | April 6, 2010, 15:14

ONLY JUST CLIK PAID MONEY FREE

DIBAYAR FACEBOOK

Berbisnis dan berbagi bersama anak yatim

BAYAR APA SAJA MUDAH PLUS PASIF INCOME

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

your site traffic and get extra money free

SEJARAH SUKU BADUY

KLIK DISINI

WISATA GUNUNG SALAK

Taman Nasional Gunung Halimun – Salak

Destinasi Alam Petualang

Follower recent

Tips dan Trik Sukses Bisnis Online

visitor

  • 81,556 hits

Page Rank

free counters
ihannug

nobody's perfect

Liby Everlasting

Dari "Nothing" menjadi "Something"

RAU TRADE CENTER KOSUMBA

A great WordPress.com site

risqiaputri

Hanya sebuah kerikil kecil

BELAJAR INET MARKETING

Belajar Bisnis Online dan Internet Marketing

AndraUlfaWijaya

hidupku.. hidupmu..

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: