//
you're reading...
PENGEMBANGAN DIRI

Apriori Terhadap Kritik


APRIORI terhadap KRITIK ?

Pernahkah Anda merasa gusar dan uring-uringan ketika menerima kritik dari orang lain? Tak perlu malu untuk mengakuinya,karena sikap seperti ini lumrah ditemui dalam masyarakat kita. Dalam dunia birokrat, kritik sering dianggap sebagai ancaman terhadap status quo. Dan dalam masyarakat awam, kritik terlanjur dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi diri, bahkan penghinaan dan pelecehan terhadap martabat.Tak heran bila kita cenderung mengembangkan sikap negatif terhadap kritik. Sikap yang muncul selanjutnya adalah berusaha menghindar, menutup setiap pintu dan celah, serta menyumbat setiap saluran komunikasi yang memungkinkan ‘leluasanya’ sang kritik menerobos masuk. Apakah setiap ktitikan harus disikapi secara ituHARUSKAH KRITIK DISIKAPI SEPERTI ITU?


Bagaimana sikap kita terhadap kritik?

Masalah yang menarik berkaitan dengan sikap adalah bahwa sikap mempengaruhi bagaimana seseorang berhubungan, memandang, dan menunjukkan tingkah laku tertentu terhadap sesuatu. Ada yang menyebut sikap sebagai suatu pre-disposisi yang relatif stabil dan bertahan untuk berprilaku atau bereaksi dengan satu cara tertentu terhadap orang, obyek, institusi atau permasalahan. Adapun yang memandang sikap sebagai kecenderungan untuk bereaksi positif (menerima) atau negatif (menolak) suatu obyek, berdasarkan penilaian apakah obyek tersebut berharga bagi dirinya atau tidak. Menurut yang lain dalam sikap positif terdapat kecenderungan tindakan mendekati, menyenangi dan mengharapkan obyek tertentu. Sedangkan sikap negatif ditandai dengan kecenderungan menjauhi dan membenci.

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa sikap negatif berawal dari penilaian kita terhadap kritik. Kita terlanjur memandang kritik sebagai sebuah stimulus atau rangsangan yang dapat mengancam eksistensi diri. Kritik seringkali dinilai sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat, menyebalkan serta menyebabkan telinga panas dan hati sesak. Pre-disposisi negatif terhadap kritik dapat ditunjukkan dengan tindakan yang mencerminkan upaya pembelaan diri secara kurang proposional, semisal mencari kambing hitam, kemarahan, atau memusuhi (perubahan sikap) terhadap orang yang memberi kritik. Sebagai contoh kata seorang suami pada istrinya yang baru pulang belanja. “Lihatlah, Ibu sering memborong barang yang tak perlu. Belum lagi habis bulan, ibu sudah mengeluh kehabisan uang belanja.” Sang istri terdiam sesaat dengan rona wajah yang mulai berubah. Dengan langkah gontai bergegas pergi meninggalkan suaminya. Sebelum lenyap dibalik pintu kamar, jelas terdengar sebuah kalimat gerutuan, “Uang belanja yang kurang banyak, kok ibu yang disalahin.”

Episode selanjutnya mudah ditebak. Suami jadi serba salah mendapati istri tercinta mulai berdiam diri, berbicara seadanya, dan roman wajah yang tak sedap dipandang. Hubungan jadi kaku dan dingin. Dan, butuh waktu yang cukup untuk mencairkan suasana seperti semula (sebelum episode pelontaran kritik). Begitupun pada kasus X dan Y. Sejak saat itu,X merasa ada ganjalan dihati setiap bertemu dengan Y. Ada ‘rasa’ lain yang kini hadir ditengah-tengah mereka.

SYARAT BURUK

Kondisi ini tentu saja tidak mengenakkan bagi kedua belah pihak. Selain dapat merusak suasana ‘nyaman’, penunjukan sikap negatif terhadap kritik membuat pola interaksi dan komunikasi menjadi kurang sehat. Kita cenderung takut dan enggan berinteraksi dengan orang yang suka memberikan kritik. Padahal ada beberapa kerugian yang akan kita alami manakala sikap apriori terhadap kritik selalu dipelihara hingga berkembang menjadi sebuah budaya.

PERTAMA, kita cenderung menutup mata terhadap kelemahan dan kekurangan kita. Bersikap negatif berarti kita menganggap diri selalu benar.

KEDUA, dengan bersikap negatif kita telah melewatkan kesempatan emas untuk melakukan proses intropeksi diri. Hadirnya kritik selalu dihadapkan dengan upaya pembelaan dan pembenaran diri. Ini tentu saja menyulitkan kita untuk melakukan ‘penelanjangan’ diri.

KETIGA, kita akan membebani hati dengan prasangka buruk pada orang lain. Kita menganggap orang lain telah begitu tega membongkar dan menunjukkan kelemahan diri yang selama ini sadar atau tidak telah kita simpan rapat-rapat.

KEEMPAT, bersikap negatif terhadap kritik merupakan lahan subur bagi berkembangnya penyakit SOMBONG, TAKABUR, dan BANGGA DIRI sekaligus sebagai indikasi bahwa kita belum ‘MENGENALI DIRI SENDIRI’.

SIKAP DAPAT BERUBAH

Teori psikologi menyebutkan bahwa di dalam sikap terdapat komponen kognitif, afektif, dan kognItif. Kognitif berhubungan dengan keyakinan, ide dan konsep. Afektif menyangkut kehidupan emosional individu dihubungkan dengan obyek psikologisnya, sedangkan kognitif merupakan kecenderungan individu untuk bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain, sikap yang ditunjukkan seseorang tergantung pada jalan pikiran dan perasaan individu terhadap situasi tertentu. Jalinan pikiran dan perasaan tersebut dimunculkan dalam bentuk tingkah laku positif ‘menerima’ atau negatif ‘menolak’ (seperti pada suami-istri di atas).

Ketika menerima lontaran kritik, jalan pikiran sang istri langsung menangkap sebagai sinyall bahaya. Otomatis, perasaannya menjadi kalut dan panik. Wajarlah bila tingkah laku yang muncul adalah upaya pembelaan diri.

Ada yang berpendapat bahwa, sikap bukanlah bawaan sejak lahir tapi dapat dibentuk melalui berbagai cara. Sehingga, meski realita menunjukkan bahwa kebanyakan kita terbiasa bereaksi negatif ketika menerima kritik, bukan berarti sikap apriori adalah sikap yang ‘laten’ dan dari ‘sononya’. Adapun yang berpendapat bahwa pertambahan usia, perkembangan intelegensi dan pengalaman hidup seseorang dapat mempengaruhi pembentukan sikap terhadap banyak hal, termasuk terhadap kritik. LESTER D.CROW menyoroti masalah hubungan intern yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri individu sebagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap.

DARI NEGATIF KE POSITIF

Apa yang harus kita lakukan untuk mengubah sikap negatif????. Yang harus kita perhatikan adalah membenahi faktor internal, sebelum mengharapkan adanya perubahan faktor eksternal. Dengan kata lain, kita harus siap melakukan reformasi terhadap struktur, kognitif, afektif dan konatif sebagai komponen pembentukan sikap.

Pertama, menanamkan pemahaman konsep dalam diri bahwa kritik bukan ancaman, tapi justru sebuah stimulus atau rangsangan untuk melakukan proses perbaikan diri. Kritik pada dasarnya adalah nasehat. Nasehat itu pada hakikatnya adalah ungkapan ‘kasih sayang’ seseorang pada diri kita dengan maksud memberikan upaya perbaikan. Sehingga, kita bisa menganggap kehadiran kritik sebagai sarana yang dapat membantu akselerasi pembentukan kepribadian yang baik. QS 51:55

Kedua, menumbuhkan suasana psikologis yang sehat dalam menerima kritik. Hadapi kritik dengan lapang dada, penuh kemakluman, dan senyum keikhlasan. Sikap seperti itu membuat kita lebih ‘nyaman’ dan dapat mengendalikan upaya pembelaan atau pertahanan diri yang tidak proposional. Bahkan akan membuat kita ‘siap’ menghadapi sebuah kecaman pedas dan ‘asbun’ sekalipun.

Ketiga, menunjukkan sikap tawadhu (rendah hati) dalam menghadapi orang yang melontarkan kritik. Ini dapat dilakukan dengan cara mendengarkan penuh perhatian, tidak memotong pembicaraannya karena tergesa ingin memakai hak jawab dan tidak menunjukkan sikap meremehkan atau tidak peduli.

Keempat, mem-follow up-i kritik dengan melakukan intropeksi. Melalui intropeksi yang distimulusi oleh kritik membuat kita menjadikan diri sebagai telaah, bukan orang lain. Pada kasus X-Y, maka X akan mengkaji sikap dan prilaku apa yang telah melahirkan kritik Y. Bukan memikirkan mengapa Y tega memvonisnya seperti itu. Berpikir yang terpusat pada diri akan melahirkan sikap objektif dan akan menutup peluang munculnya rasa tidak suka bahkan keinginan membalas ‘dendam’ pada lain kesempatan.

“BERPIKIRLAH TENTANG HAL BURUK APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA ORANG LAIN,” demikian sebuah nasehat bijak. Terbiasa berpikir demikian, membuat kita mengenali diri dan tidak ‘shock’ kala menerima kritik. Akhirnya kita bisa mensikapi kritik secara positif.
ADE SUBANDI/https://kampungsekolah.wordpress.com

MARI KITA COBA!!!!

‘HasbunAllAH wa ni’mal wakiil’

About ade subandi

saya faham akan ketidaksmepurnaan dalam tulisan yang saya buat melalui blog ini masih banyak sekali kekurangan. namun dengan blog yang sederhana ini paling tidak ada nilai manfaat meskipun kecil semoga ada hikmahnya buat para readers netters.

Diskusi

Komentar ditutup.

ONLY JUST CLIK PAID MONEY FREE

DIBAYAR FACEBOOK

Berbisnis dan berbagi bersama anak yatim

BAYAR APA SAJA MUDAH PLUS PASIF INCOME

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

your site traffic and get extra money free

SEJARAH SUKU BADUY

KLIK DISINI

WISATA GUNUNG SALAK

Taman Nasional Gunung Halimun – Salak

Destinasi Alam Petualang

Follower recent

Tips dan Trik Sukses Bisnis Online

visitor

  • 81,556 hits

Page Rank

free counters
ihannug

nobody's perfect

Liby Everlasting

Dari "Nothing" menjadi "Something"

RAU TRADE CENTER KOSUMBA

A great WordPress.com site

risqiaputri

Hanya sebuah kerikil kecil

BELAJAR INET MARKETING

Belajar Bisnis Online dan Internet Marketing

AndraUlfaWijaya

hidupku.. hidupmu..

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: