//
KHURAFATISME

KHURAFATISME

MELURUSKAN BID’AH DAN KHURAFATISME DALAM MASYARAKAT

WALI KERAMAT ( I )

Pendahuluan

AlDakwah.com- Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti seluas-luasnya.

——————————————————————————–

Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Al-Quran dan hadist, nampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spritual, enantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti feodalistik.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Fazlur Rahman sampai pada tesis bahwa secara eksplisit dasar al-Quran adalah moral yang memancarkan titik pada Monoteisme dan keadilan sosial. Tesis ini dapat dilihat misalnya pada ajaran tentang ibadah yang penuh dengan muatan peningkatan keimanan, ketakwaan yang diwujudkan dengan akhlak yang mulia. Hubungan keimanan dan ketakwaan dengan akhlak yang mulia demikian erat.

Selanjutnya hasil penelitian yang dilakukan oleh Jalaluddin Rahmat terhadap al-Quran menyimpulkan empat hal yang bertemakan tentang kepeduliaannya terhadap masalah sosial. Pertama, dalam al-Quran adan kitab-kitab hadis, proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial. Kedua, dalam kenyataannya dalam urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan ( tentu bukan ditinggalkan ). Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kafarat-nya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.

Gambaran ajaran Islam yang demikian ideal itu pernah dibuktikan dalam sejarah dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia. Namun kenyataan Islam sekarang menampilkan keadaan yang jauh dari cita ideal tersebut.

Ibadah yang dilakukan umat Islam, seperti salat, puasa, zakat, haji dan sebagainya hanya berhenti pada sebatas membayar kewajiban dan menjadi lambang kesalehan, sedangkan buah dari ibadah yang berdimensi kepedulian sosial sudah kurang nampak. Dikalangan masyarakat telah terjadi kesalah pahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan itu. Akibat dari kesalah pahaman memahami simbol-simbol keagamaan itu, maka agama lebih dihayati sebagai penyelamat individu dan bukan sebagai keberkahan sosial secara bersama. Seolah Tuhan tidak hadir dalam problematik sosial kita, kendati nama-Nya semakin rajin disebut dimana-mana. Pesan spiritualitas agama menjadi mandeg, terkristal dalam kumpulan mitos dan ungkapan simbolis tanpa makna. Agama tidak muncul di dalam satu kesadaran kritis terhadap situasi actual.

Lebih jauh agama banyak diselewengkan makna-makna yang terkandung di dalam simbol-simbol ke-Islaman, seperti Nabi dan mukjizatnya, Dukun (paranormal) dan kelebihannya, Wali dan keramatnya. Yang disebut terakhir ini merupakan salah satu bentuk penyelewengan makna dari sekian banyak simbol-simbol yang terdapat dalam teologi Islam. Kesalahan tersebut telah terjadi, sebagaimana terungkap dalam sejarah, sejak zaman (periode) pertengahan pada saat Islam lemah secara politik maupun keilmuan.

Abdul latif b. Muhammad Al-Hasan menjelaskan bahwa kesalahpahaman dalam menginterprestasikan Wali dan keramatnya dimulai sejak para tokoh Sufi secara berlebihan (tajawaz al-had) dalam menggambarkan kekeramatan para tokohnya seperti Al-Hallaj, Abu Yazid al-Busthami, Abu Qasim al-Junaid dan lain-lainnya. Hal tersebut terlihat jelas dari beberapa kitab yang dikarangnya seperti Al-Thabaqat al-Qubra oleh Al-Sya’rani, Jami’KaramatAl-Aulia’ oleh Ibn al-Mullaqqin, dan kitab Karamat al-Aulia’ oleh Al-Nabhai.

Selanjutnya Abdul latif mengomentari lebih jauh bahwa sebabterjadinya kesalahan dalam memaknai Wali dan keramatnya adalah sejak perdebatan teologis antara sekte-sekte dalam teologi Islam, seperti Al-Asy’ariyah, al-maturidiah, al-mu’tazilah dan lainnya. Juga ketidak jelasan perbedaan antara mukjizat, keramat, irhas, istidraj, Ilmu hikmah dan Sihir.

Di Indonesia pada umumnya, terjadi kesalahpahaman dalam menginterpretasikan makna dan hakikat substansial dari keramat para Wali Allah, yang pada akhirnya terjadi pengkultusan (penghormatan yang berlebihan terhadap para Ulama [Wali] Allah). Indikator yang paling jelas dalam hal ini adalah terjadinya penyembahan dalam arti meminta sesuatu dari para ulama makamnya, yang telah meninggal dunia.

Di Lombok, yang penulis jadikan obyek penelitian, terlihat dengan jelas penampakan pengkultusan terhadap Kiyai (Tuan Guru;Sasak), dengan bentuk yang lebih membahayakan aqidah umat yaitu apapun yang dikatakan oleh ulama (Kiyai atau Tuan Guru) nya sudah pasti benar dan tidak boleh dirubah walau “salah” dalam realitas ilmu pengetahuan maupun aqidah yang benar. Disamping itu pula makam-makam atau kubur para Wali yang mereka anggap keramat dikunjungi dengan penuh semangat dan meminta segala hajat dan keinginannya. Di lain pihak substansi keramat yang dimunculkanpun sangat jauh dari kebenaran, bahkan mungkin, sifatnya hanya imajinatif dan mitos belaka.

Sebagai bahan telaah awal baik untuk coba dipresentasikan makna dan hakekat keramat para wali Allah seperti yang telah tervisualisaikan oleh Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW dan sebagaimana terambar pada masa-masa Islam awal. Disamping itu untuk mengetahui bagaimana dan kapan pergeseran makna serta substansial dari keramat terjadi.

Namun untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimana dan kapan keramat para wali itu bergeser dari makna dan hakekat yang sebenarnya – seperti tergambar dalam Al-quran maupun Sunnah-baik untuk menelaah apa – apa makna atau definisi-definisi serta apa substansi keramat para wali yang sebenarnya dan esensi ke-wali-an itu sendiri.

Kata Al- Waliy yang terampil dari akar kata wauw, lam dan ya’ secara generic berarti “dekat/Al-Qurb”. Dari sini kemudian berkembang makna-makna baru, seperti “”pendukung”, “pembela”, “pelindung”, “yang mencintai”, “lebih utama”, dan lain-lain, yang ke semuanya diikat oleh benang merah kedekatan.

Imam Al-Syaukany mendefinisikan “Al-Waliy” dengan,” Al-Wilayatu Dhiddu al-‘Adawah wa Ashl al-Walayah al-Mahabbah wa al-Taqqarub kama zakaharu Ahl al-Lughah wa Ashl al-“Adawah al-bugdhu wa al-bu’dhu” [Al-Walayah sinonim dari kata al-‘Adawah, dan makna dasar dari al-Walayah adalah kecintaan dan kedekatan sebagaimana digambarkan oleh para ahli bahasa, sedangkan makna dasar dari al-‘Adawah adalah permusuhan dan jauh] ?

Keramat para wali itu terjadi melalui proses yang demikian panjang terhadap diri seorang saleh (Ulama) setelah mereka melaksanakan ritual agama secara tekun dan bermujahdah melawan segala tantangan hawa nafsu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mempresentasikan makna an hakikat keramat para wali itu sebagaimana tertuang dalam kitabnya “Fatawi Ibnu Taimiyah”, Wali Allah adalah orang-orang mukmin yang bertaqwa kepada Allah [Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa khawatir. Mereka beriman dan bertaqwa (kepada Allah) QS:10:62], bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firman-Nya, penciptaan-Nya, izin-Nya, dan kehendak-Nya yang termasuk dalam ruang lingkup agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karamah [kelebihan] pada diri mereka sebagai hujjah dalam agama dan bagi kaum muslimin, tapi karamah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syari’at yang dibawa Rasul Allah SAW:

[Sesungguhnya para wali Allah itu adalah orang-orang yang bertaqwa. Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. QS.8:34].

Lebih jauh beliau berkomentar bahwa kema’suman bukanlah menjadi persyarat kewalian, artinya seorang ali boleh jadi berbuat dosa atau kesalahan atau perkara agama tersamar pada dirinya, maka tidaklah wajib taat kepada-Nya di dalam seluruh perintah-Nya, bahkan seluruh ihwalnya mesti dirujukan kepada Al-quran dan Sunnah Rasul Allah, bila sesuai dengan keduanya diterima dan bila tidak di tolak. Dalam hal ini Ibnu Atha’ berkata,”Tidak setiap orang keistimewaannya dapat tampak dan sempurna kemurniannya…”

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

ONLY JUST CLIK PAID MONEY FREE

DIBAYAR FACEBOOK

Berbisnis dan berbagi bersama anak yatim

BAYAR APA SAJA MUDAH PLUS PASIF INCOME

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

your site traffic and get extra money free

SEJARAH SUKU BADUY

KLIK DISINI

WISATA GUNUNG SALAK

Taman Nasional Gunung Halimun – Salak

Destinasi Alam Petualang

Follower recent

Tips dan Trik Sukses Bisnis Online

visitor

  • 81,556 hits

Page Rank

free counters
ihannug

nobody's perfect

Liby Everlasting

Dari "Nothing" menjadi "Something"

RAU TRADE CENTER KOSUMBA

A great WordPress.com site

risqiaputri

Hanya sebuah kerikil kecil

BELAJAR INET MARKETING

Belajar Bisnis Online dan Internet Marketing

AndraUlfaWijaya

hidupku.. hidupmu..

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: